Aktivis Telat Menurut Chandra Ekajaya

Pengusaha Chandra Ekajaya merasakan bagaimana menjadi mahasiswa sekaligus aktivis di masa mudanya. Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan seperti itu ia menyadari bahwa dunia aktivisme ternyata memang dikendalikan oleh suatu atau beberapa organisasi yang mengatur isu-isu di seluruh dunia. Maka dari itu ia sangat miris melihat aksi-aksi aktivis yang kebanyakan berasal dari lembaga swadaya masyarakat dan mahasiswa. Menurutnya mereka itu adalah orang-orang yang berhasrat menjadi aktivis tetapi sudah telat, baik secara waktu maupun situasi. Menurutnya tindakan yang terjadi di seputar kasus kendeng ini adalah pengeksploitasian rakyat untuk menjadi pendemo. Jadi ada pengorganisiran rakyat yang merupakan petani kemudian disulap menjadi pendemo dengan ditakuti hal-hal yang merupakan pesanan dari pihak yang bekerjasama dengan para aktivis tersebut. Namanya juga pendapat juga diperbolehkan, karena sekarang para petani tersebut pun menurut mereka disebut sebagai aktivis. Jadi mereka membuat batasan itu menjadi kacau sehingga tidak jelas lagi mana yang aktivis dan yang petani.

Karena banyak informasi yang beredar di lapangan mengenai kasus pabrik semen Kendeng ini, maka berdasarkan informasi yang didapatkan di lapangan, sebenarnya pihak PT Semen Indonesia sudah melakukan banyak sosialisasi ke warga sekitar. Sosialisasi ini tidak hanya dilakukan sekali, tetapi berulang kali, bahkan warga dan masyarakat pun diperbolehkan untuk melihat langsung pengelolaan tambang batu kapur di pabrik semen milik PT Semen Indonesia di wilayah Tuban. Menurut Anggoro Harry Sulistyawan selaku Staff of Central Design Engineering PT Semen Indonesia (Persero) Tbk akan ada efek-efek positif yang terjadi secara multiply. Hal ini disebut dengan multiplier effect. Ke depannya masyarakat dan lingkungan sekitar akan merasakan dampak positif. Misalnya saja pada awal pendirian proyek, yakni saat pembangunan pabrik semen, banyak ribuan tenaga kerja yang terserap. Angka pengangguran langsung berkurang secara drastis. Jaminan kesehatan untuk mereka dan keluarga, serta pendidikan untuk anak-anaknya pun ditanggung oleh pihak pabrik. Inilah yang membuat pendirian pabrik semen menjadi hal positif.

Aktivis Telat Menurut Chandra Ekajaya


Pengusaha Chandra Ekajaya mengutip ucapan Anggoro, mengatakan bahwa nantinya gerbong ekonomi kerakyatan pun akan terwujud, sehingga masyarakat juga yang akan merasakan hasilnya. Contoh yang terjadi di wilayah Tuban adalah tumbuhnya wirausaha. Hal ini disebabkan oleh para pekerja yang kemudian membuat berbagai macam jenis usaha, seperti warung makan, laundry, kos, cuci motor, toko kelontong, pulsa, sembako, dan sebagainya. Usaha-usaha ini tumbuh karena para pekerja tersebut kehidupannya sudah terjamin dengan bekerja di pabrik semen. Selain hal-hal yang disebutkan tadi, pihak PT Semen Indonesia juga menyatakan bahwa mereka akan membantu masyarakat dengan memberikan kucuran modal untuk usaha. Kemudian juga akan memberikan pelatihan keterampilan kerja, sehingga masyarakat di wilayah pabrik semen tersebut memiliki keterampilan dan keahlian di bidangnya. Belum lagi mengenai bantuan pendidikan kejar paket, sehingga anak-anak yang putus sekolah atau pun orang tua yang ingin melanjutkan pendidikannnya bisa terfasilitasi dengan program dari pabrik semen. Masih banyak hal positif lainnya yang bisa dirasakan langsung.

Masih ada banyak manfaat yang bisa dirasakan oleh masyarakat di sekitar pabrik semen, yakni pembangunan sarana olahraga maupun pendidikan dan ada dana bagi masyarakat sekitar yang bersumber dari dana corporate social responsibility perseroan. Selain itu pendapat asli daerah kabupaten atau kota yang ditempati juga akan meningkat karena bagaimana pun pendirian pabrik semen ini akan memberikan sumbangsih yang nyata dan besar. Maka dari itu dengan adanya dampak positif yang banyak dari PT Semen Indonesia maka masyarakat pun akan bertambah sejahtera. Tentu saja bila dibandingkan dengan isi dari berita-berita media yang memihak aktivis Kendeng, hal seperti ini tidak pernah diberitakan. Padahal bila mau berpikir secara sehat dan normal, maka pendirian pabrik semen dari PT Semen Indonesia akan memberikan dampak yang positif dan nyata baik dalam lingkungan maupun secara sosial ekonomi. Kemudian bila berbicara mengenai fakta, maka penambangan batu kapur di wilayah Kendeng, Rembang, ternyata sudah dimulai sejak tahun 1998.

Penambangan tersebut tidak dilakukan oleh rakyat, melainkan oleh belasan perusahaan swasta, tetapi pada kurun waktu tersebut dari masyarakat tidak pernah muncul penolakan, baik dengan dalih lingkungan atau pun mata pencaharian penduduk yang kebanyakan petani akan hilang. Sayangnya, saat PT Semen Indonesia baru akan masuk ke tahap pendirian pabrik pada tahun 2014 barulah muncul lembaga-lembaga swadaya masyarakat serta aktivis yang ribut dan memprovokasi rakyat, bahkan mengorganisir mereka sebagai pendemo. Bahkan bila dilihat langsung di lapangan, masih banyak belasan perusahaan swasta yang menambang di wilayah tersebut, tetapi aktivis dan lembaga swadaya masyarakat seperti cuek-cuek saja. Ini menjadi pertanyaan yang mendasar, bahwa apa motif sesungguhnya dari aktivis dan lembaga swadaya masyarakat tersebut. Banyak sekali lembaga swadaya masyarakat dan aktivis yang sangat garang dan galak ke perusahaan-perusahaan berpelat merah, tetapi sangat mesra dengan perusahaan asing. Itulah yang menyebabkan pengusaha Chandra Ekajaya mengundurkan diri dari dunia aktivis. Sebab ia hanya melihat kekecewaan dan pengkhianatan yang nyata dan disengaja.

Aktivis Telat Chandra Ekajaya


Pengusaha Chandra Ekajaya menjelaskan bahwa jika nantinya PT Semen Indonesia tidak jadi berdiri di wilayah Kendeng, Rembang, dan digagalkan hanya karena alasan-alasan yang irasional maka modal 5 triliun rupiah milik negara akan tidak berguna dan menguap begitu saja. Nantinya yang rugi adalah negara, badan usaha milik negara, dan rakyat. Karena nanti proyek-proyek pembangunan membutuhkan semen. Sedangkan semen yang diperoleh berasal dari perusahaan asing, sehingga harganya lebih mahal. Meskipun pemerintah sudah memotong banyak anggaran, tetapi bila dipaksakan membeli semen dari pihak asing maka yang terjadi adalah pemborosan, sehingga akan terjadi inflasi karena harus menyelesaikan pembangunan. Maka harga-harga akan menjadi mahal. Nantinya mereka akan mengadu kepada pemerintah supaya harga diturunkan. Tetapi bila mereka tahu harga menjadi naik ada keterkaitannya dengan penolakan pembangunan semen. Inilah yang tidak dijelaskan kepada warga dan masyarakat. Banyak berita massa online atau pun cetak yang tidak imbang dalam pemberitannya. Ini wajar karena mereka mempunyai politik keredaksian sendiri.


Sayangnya, pengusaha Chandra Ekajaya merasa bahwa zaman ini tidak berbeda dengan zaman order baru. Bila pada zaman orde baru media massa dikontrol oleh pemerintah, kini mereka dikontrol oleh korporasi atau uang. Rasa nasionalisme sudah tidak ada lagi. Dengan bungkus lingkungan dan kemanusiaan mereka kemas isu tersebut. Beruntung pada zaman dahulu masih ada pers mahasiswa yang memberikan tawaran berita alternatif. Sayangnya di zaman ini media massa dan pers mahasiswa mempunyai frame yang sama. Entah bisa disebut sebagai kemunduran, atau pun terjun bebas yang drastis. Semoga saja ke depannya bangsa ini dapat melihat yang sejatinya. Karena hanya waktulah yang dapat membuktikan siapa yang berjuang demi kepentingan rakyat dan pihak mana yang berjuang demi kepentingan uang semata.   
Aktivis Telat Menurut Chandra Ekajaya Aktivis Telat Menurut Chandra Ekajaya Reviewed by ekopurwadi691 on 01.24 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.