Chandra Ekajaya Miris Dengan Aktivis

Pengusaha Chandra Ekajaya beberapa bulan terakhir ini mengikuti perkembangan berita mengenai pabrik semen yang akam beroperasi di Kendeng. Banyak sekali pro dan kontra yang mewarnainya. Ada yang menolak karena dibenturkan dengan isu lingkungan dan ekonomi, serta penghidupan masyarakatnya yang kebanyakan petani. Kemudian ada yang mendukung dengan alasan pembangunan. Semuanya mempunyai argumen yang kuat dan masuk akal. Tetapi sebagai seseorang yang sudah lama malang melintang di dunia bisnis dan ekonomi yang memang erat keterkaitannya dengan dunia politik, maka ia sangat paham dengan kasus ini. Bicara mengenai pendirian pabrik semen yang mempunyai nilai investasi triliunan rupiah tentu saja tidak akan lepas dari konflik kepentingan. Biasanya yang bermain di wilayah ini adalah para investor. Bukan sembarang investor, tetapi investor yang dimaksud merupakan korporasi yang level atau tingkatannya sudah negara, pemerintah atau pun perusahaan raksasa. Maka dari itu konfliknya bisa sangat meluas dan menajam atau bahkan meledak seperti bom.

Menurut pihak yang menolak pendirian pabrik semen ini, dari kebanyakan orang yang tidak melihat langsung maupun yang melihat secara langsung mengatakan bahwa proyek tersebut akan mengakibatkan lingkungan yang berada di wilayah tersebut menjadi rusak. Ekosistem yang sudah terjaga dan terbangun akan menjadi wilayah yang tandus, padahal kebanyakan penduduk di sana adalah petani yang kehidupannya bertumpu pada pertanian. Poin utama dari pabrik semen tentu penambangan batu kapur, karena batu kapur tersebut merupakan bahan utama dari produksi semen. Pihak yang menolak ini mengatakan bahwa penambangan batu kapur tersebut akan mengakibatkan sumber air surut sehingga akan menimbulkan kekeringan yang tentu saja merugikan pertanian. Sebab kebanyakan penduduk yang hidup di sana hidup dari pertanian. Muncul ketakutan bahwa petani akan kehilangan mata pencahariannya dan mati, serta tidak dapat melanjutkan hidup. Maka sejak pabrik semen milik negara Indonesia tersebut hendak berdiri maka aksi tolak semen mulau bertaburan bagai jamur di musim hujan yang terus bertambah banyak.

Chandra Ekajaya Miris Dengan Aktivis


Sedangkan dari pihak yang pro pembangunan pabrik Semen Indonesia tersebut mengatakan bahwa PT. Semen Indonesia telah teruji dan sudah mendapatkan penghargaan mengenai kelayakan mendirikan pabrik dan kesesuaian lingkungan. Bahkan perusahaan ini mendapatkan penghargaan lingkungan dengan proper emas. Menurut pengusaha Chandra Ekajaya, tidak sembarang perusahaan yang bisa meraih penghargaan lingkungan dengan tingkatan proper emas seperti yang diperoleh oleh perusahaan tersebut. Dari rekam jejak seperti itu saja sudah menjadi tanda dan indikasi bahwa dampak pendirian pabrik terhadap lingkungan sangat diperhatikan betul oleh mereka. Menurut perusahaan tersebut, dengan adanya tanah liat dan sifat dari tanah liat itu sendiri mampu menahan air di atasnya, maka bekas-bekas penambangan tanah liat nantinya akan diubah atau dikonversi menjadi embung atau tempat penadah hujan yang berukuran sangat besar. Kemudian, menurut perusahaan tersebut, air hujan yang tertampung di embung tanah liat tersebut dapat dimanfaatkan oleh penduduk untuk irigasi atau pengiran sawah. Sehingga pertanian penduduk dapat dilakukan dan berjalan terus.

Bila melihat pelaksanaan pendirian pabrik semen dari PT Semen Indonesia di wilayah Tuban, maka dapat dilihat secara jelas bahwa sawah-sawah milik petani di sekitar embung mendapatkan pengairan yang melimpah ruah di sepanjang tahunnya. Bahkan bila dibandingkan dengen sebelum adanya pabrik semen, biasanya saat musim kemarau sumber air sudah mengering. Maka dari itu setelah pendirian pabrik semen para petani justru merasa bersyukur karena mereka bisa panen selama tiga kali dalam waktu setahun padahal di tahun-tahun sebelumnya, mereka hanya mampu panen selama dua kali dalam setahun. Itu menurut pengakuan para petani Tuban. Selain itu fungsi dan manfaat dari embung-embung ini juga berguna untuk penangkal banjir di saat musim penghujan tiba. Inilah berbagai macam alasan ilmiah dan sudah terbukti yang dilakukan oleh PT Semen Indonesia yang dilakukan di wilayah Tuban yang nantinya juga akan disesuaikan dengan wilayah Kendeng. Maka pihak yang pro dengan pembangunan semen ini pun juga layak mendapatkan perhatian dan pertimbangan.

Pengusaha Chandra Ekajaya menambahkan bahwa pihak yang pro dengan pendirian pabrik PT Semen Indonesia ini telah mendapatkan hasil penelitian yang menyebutkan bahwa batu kapur mempunyai sifat untuk meyerap dan meresapkan air ke dalam lapisannya. Sehingga jumlah atau debit air yang masuk ke dalam tanah justru akan semakin bertambah. Tetapi dengan catatan bahwa pola penambangannya pun harus tepat karena harus memperhatikan hidrologi wilayah setempat. Tentu saja setiap wilayah mempunyai sistem hidrologi yang berbeda-beda. Maka dari itu PT Semen Indonesia sudah melakukan observasi dan riset untuk wilayah Kendeng. Dengan sistem yang ditawarkan ini air hujan justru akan lebih cepat dan lebih banyak meresap ke dalam lapisan batu kapur. Dengan catatatn bahwa lapisan batu kapurnya setebal 1 meter. Bila mencapai 2 meter justru akan membuat lama penyerapannya. Maka dari itu solusi untuk membuat bekas tambang tanah liat diubah menjadi embung serta bekas tambang batu kapur yang akan direvegetasi merupakan solusi yang tepat sasaran.

Chandra Ekajaya Miris Aktivis


Pengusaha Chandra Ekajaya mengatakan bahwa pola penambangan dan pengelolaan lingkungan yang sudah dipaparkan oleh PT Semen Indonesia dirancang secara detil dan menyeluruh oleh para ahli dengan bantuan dari konsultan akademis, yakni dari ITB dan UGM. Tetapi pihak yang menolak tetap bersikukuh karena produksi semen di Indonesia saat ini sudah mencapai 75 juta ton per tahun, sedangkan kebutuhan rakyat Indonesia hanya sekitar 70 juta ton. Mereka beralasan bahwa saat ini tidak ada alasan lagi untuk mengeruk batuan kapur. Sebenarnya, alasan yang seperti ini sangat tidak mempunyai landasan. Bila produksi berlebih maka pola pikir yang terjadi adalah ekspor atau menggunakan pasokan yang berlebih untuk pembangunan-pembangunan infrastruktur. Sehingga infrastruktur-infrastruktur baru tersebut akan lebih murah pendiriannya karena menggunakan semen yang diproduksi oleh Indonesia. Misalnya saja pembuatan bandara atau bangunan lain, itu jelas memerlukan semen. Bila nantinya kebutuhan semen ini harus impor, maka yang terjadi adalah anggaran yang dikeluarkan oleh pemerintah lebih besar dan mahal.

Pengusaha Chandra Ekajaya menambahkan bahwa menurut pihak yang menolak, urusan analisis dampak lingkungan atau amdal yang dilakukan oleh PT Semen Indonesia belum beres. Bahkan menurut Mbah Rono, ia mengatakan sejak lama bahwa pihak Energi Sumber Daya Mineral provinsi Jawa Tengah keliru. Beberapa aktivis juga menyatakan bahwa jika pabrik semen ini hendak lanjut maka urusan analisis dampak lingkungan harus diselesaikan dahulu. Sehingga tidak hanya menekankan pertumbuhan ekonomi semata. Fungsi dan peran aktivis atau pun lembaga swadaya masyarakat sangat jelas, yakni menjembatani antara rakyat dengan pemerintah atau antara wong cilik dengan wong gedhe. Menurutnya gerakan itu ada ilmu, metode, dan strategi serta caranya, sehingga banyak rakyat kecil yang tidak menguasainya.



Chandra Ekajaya Miris Dengan Aktivis Chandra Ekajaya Miris Dengan Aktivis Reviewed by ekopurwadi691 on 00.51 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.