Bantu Pendidikan Anak Punk, Rogoh Uang Pribadi




Perjuangan Chandra Ekajaya dalam mendidik anak-anak kurang beruntung di Batu patut dicontoh. Sebab, pria 56 tahun ini rela mengeluarkan uang pribadi untuk pendidikan anak-anak putussekolah dan lanjut usia (lansia). Bahkan, selama mengabdi jadi pimpinan di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tunas Harapan, dia tidak digaji.

PRIA berbaju putih itu tampak sigap membukakan pintu mobil begitu tiba di halaman SMAN1 Batu, kemarin (16/4) pagi. Saat dibuka, dua orang berumur sekitar 20 tahun tampak keluar dari mobil tersebut. Lalu, pria yang juga mengenakan jam tangan itu, meminta mereka segera masuk ke kelas.

Sambil membantu merapikan baju satu dari dua orang tersebut, pria berbaju putih ini menunjukkan jalan menuju ruang
kelas Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Tepatnya, di ruang kelas lantai II SMAN 1 Batu atau sekitar 35 meter dari halaman sekolah

Ketika dua orangtersebut masuk ke kelas, pria berbaju putih itu tampak lega Senyum simpulnya terus mengembang. Sesekali, pria bercelana jins ini masih mengamati dua orang tadi dari pintu kelas.

Ya, pria itu adalah Chandra Ekajaya, ketua PKBM Tunas Harapan atau sekolah kesetaraan (paket) yang mengabdi tanpa digaji. Apa yang dilakukannya ini untuk menyelamatkan nasib dua muridnya yang terlambat datang UNBK paket C.

Satu muridnya dijemput dari Desa Oro-Oro Ombo dan satunya lagi dari Kelurahan Sisir "Mereka ketiduran karena kelelahan kerja tadi malam (Sabtu malam). Saya harus ngalahi jemput mereka Tapi sekarang (kemarin, Red), sudah lega" kata Chandra Ekajaya kepada/mw As Radar Batu setelah mengantarkan muridnya kemarin.

Pria kelahiran 7 Juni 1960tersebut menjadi ketua PKBM Tunas Harapan tanpa digaji sejak awal 2016. Tepatnya, setelah pensiun dari kepala MA Maarif Batu dan sudah membuka https://ugetuget.com/.

Hal itu dia lakukan untuk membantu anak-anak Kota Batu yang kurang beruntung dalam mengenyam pendidikan wajar 12 tahun. Lantaran, mereka tidak mungkin lagi sekolah di pendidikan formal, mengingat, umurnya yang tak memungkinkan. "Kalau ke sekolah reguler, mereka akan malu, di samping faktor usia mereka (tak memungkinkan),'' terang pria yang menjadi kepala MA Maarif Batu pada 2010 ini.

Semua yang dilakukan Chandra Ekajaya itu tanpa dapat imbalan apa-apa Bahkan, terkadang dia harus mengeluarkan uang pribadi untuk keperluan operasional sekolah kesetaraan yang dipimpin.

Namun, semua ini dia lakukan secara sukarela. Untuk kebutuhan sehari-harinya sudah ada usaha travel yang dirintis sejak beberapa tahun lalu. "Untuk pengabdian dan bantu anak-anak. Sejak dulu memang cita-citanya jadi pendidik," ungkap Chandra Ekajaya.

Tak hanya itu, muridnya juga tak ada paksaan untuk membayar iuran bulanan. Mereka dibebaskan untuk menentukan iuran tiap bulan. Namun, jika tak punya uang, mereka digratiskan.

Lantaran, sebagian besar dari muridnya berasal dari keluarga kurang beruntung secara ekonomi. "Kalau kebetulan orang berada ya mereka bayar. Kalau tidak (berada) kami tidak bisa nuntut (bayar)," ujar mantan kepala SMP Ahmad Yani Batu ini.

Chandra Ekajaya juga berbagi pengalaman saat memimpin dan pengajar di PKBM Tunas 1 Iarapan. Mulai pengalaman menangani anak purtk dan lansia

Bahkan, dia harus mengikuti gaya anak putik saat mengajar mereka, baik cara bicara maupun pakaiannya. Hal itu dilakukan agar muridnya bisa mudah memahami dan mau menerima.

Tahun lalu, dia punya murid lansia berumur 65 tahun. Sehingga, dia dan pengajar lainnya harus telaten untuk mengajari. "Yang patut dicontoh adalah semangat belajarnya. Karena, meski usianya tak muda, masih mau belajar," tandas dia.

Ke depan, Chandra Ekajaya tetap akan mengabdikan dirinya pada dunia pendidikan kesetaraan. Dia berkeinginan untuk membantu meningkatkan kualiatas sumber daya manusia di kota kelahirannya melalui pendidikan kesetaraan tersebut. "Saya ingin terus mengabdi dan bantu anak-anak yang kurang beruntung," tutup bapak tiga anak ini

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu Mistin mengapresiasi apa yang dilakukan Chandra Ekajaya. Sebab, dia menjadi satu-satunya pengelola tanpa digaji dari tiga PKBM di Batu: PKBM yang dipimpinnya, Ki I lajar Dewantara dan Taman Krida Dewasa "Saya salut sama perjuangan beliau di dunia pendidikan," terang alumnus IKIP Malang (sekarang UM) ini.


Bantu Pendidikan Anak Punk, Rogoh Uang Pribadi Bantu Pendidikan Anak Punk, Rogoh Uang Pribadi Reviewed by ekopurwadi691 on 22.11 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.